Aku (kembali) Jatuh, pada mata Teduh itu
Sebelum mengenalmu cintaku pernah tertuju pada yang lain
Sebelum bersamamu hatiku pernah jatuh dan sakit
Satu persatu cintaku sirna, kepingan demi kepingan dari hancurnya hati
yang berharap tak sesuai kenyataan itu berbauran,
Entah bagaimana ku satukannya menjadi utuh dan kembali satu.
Aku berjuang sendiri melawan pilu,
Pilu dari dia yang berhasil mematahkan hatiku.
Dia pergi, tak kembali lagi.
Aku muak!!
Aku benci!!
Aku tak sudi!!
Walau hanya mendengar namanya saja meski sekali.
Dan kini kau hadir saat hatiku mulai pulih.
Kau hadir perlahan, tak terbayangkan, sampai kau merubah segalanya.
Kehadiranmu yang tak pernah aku bayangkan.
Kehadiranmu yang tak pernah aku harapkan.
Aku yang awal hanya tertarik, sampai hampir luluh dan jatuh pada mata teduh itu
Kau tak tawarkan janJi manis kepadaku
Kau tidak berikan pujian indah pada diriku
Kau tidak bertutur kata manis namun palsu hanya untuk mendapatkanku.
Yang ku lihat..
Yaa apa adanya dirimu
Pertama kali bercakap cakap denganmu
Bertukar cerita tentang diriku dan dirimu
Sampai akhirnya kita mulai berada pad atitik kenyamanan.
Terperangkap, sampai aku sulit menelisik apa yang buatku jadi seperti ini.
Ohh tunggu..
Sepertinya aku benar jatuh pada mata teduh itu.
Lebih teduh dari embun pagi,
lebih syahdu dari udara yang disebabkan sang hujan.
Buatku semakin nyaman.
Shifa Rizky Amalia
(amatir puisi)
Sebelum bersamamu hatiku pernah jatuh dan sakit
Satu persatu cintaku sirna, kepingan demi kepingan dari hancurnya hati
yang berharap tak sesuai kenyataan itu berbauran,
Entah bagaimana ku satukannya menjadi utuh dan kembali satu.
Aku berjuang sendiri melawan pilu,
Pilu dari dia yang berhasil mematahkan hatiku.
Dia pergi, tak kembali lagi.
Aku muak!!
Aku benci!!
Aku tak sudi!!
Walau hanya mendengar namanya saja meski sekali.
Dan kini kau hadir saat hatiku mulai pulih.
Kau hadir perlahan, tak terbayangkan, sampai kau merubah segalanya.
Kehadiranmu yang tak pernah aku bayangkan.
Kehadiranmu yang tak pernah aku harapkan.
Aku yang awal hanya tertarik, sampai hampir luluh dan jatuh pada mata teduh itu
Kau tak tawarkan janJi manis kepadaku
Kau tidak berikan pujian indah pada diriku
Kau tidak bertutur kata manis namun palsu hanya untuk mendapatkanku.
Yang ku lihat..
Yaa apa adanya dirimu
Pertama kali bercakap cakap denganmu
Bertukar cerita tentang diriku dan dirimu
Sampai akhirnya kita mulai berada pad atitik kenyamanan.
Terperangkap, sampai aku sulit menelisik apa yang buatku jadi seperti ini.
Ohh tunggu..
Sepertinya aku benar jatuh pada mata teduh itu.
Lebih teduh dari embun pagi,
lebih syahdu dari udara yang disebabkan sang hujan.
Buatku semakin nyaman.
Shifa Rizky Amalia
(amatir puisi)
kyaknya ada yg lgi galon sama siapa tuuuh
BalasHapus